Pada usia ku ke 17 thn, aku belajar apa artinya menjadi seorang perempuan. Bukan sebagaimana orang lain merumuskan keperempuanan. Aku sudah lama melewati masa puber, sudah pernah dekat dengan lawan jenis, berteman dengan lawan jenis bahkan berkenalan dengan orang asing. Aku belajar cara merumuskan diriku sendiri dengan cara yang berbeda, saat aku menghadapi kemungkinan kehilangan apa yang kupikir telah menjadikanku sebagai perempuan.
Pada usia ku yang ke 24 thn, aku menjalani sebuah hubungan pertemanan dengan lawan jenis dan hubungan pertemanan berlanjut menjadi hubungan asmara. Aku menjalani dengan santai. Aku pergi hanya sekedar makan atau nonton dengan cowokku, entah itu berdua atau beramai - ramai dengan temannya. Kita saling tertawa, bercanda bahkan ribut. Berselisih paham sering terjadi dalam hubungan asmara kami. Hanya waktu yang dapat membuat kami baikkan. Lumayan lama aku menjalani hubungan ini, walau sering putus sambung.
Tetapi hubungan kami segera berakhir. Prinsip hidup yang tak sama lagi menjadi pemicunya. Kami benar-benar lost contact karena kesibukan masing - masing. Aku fokus dengan karirku begitu juga dengan dia. Saat aku mulai dengan dunia perkantoran aku pernah menjalin hubungan percintaan dengan teman kantorku. Kami bareng-bareng pada saat interview, briefing bahkan training. Kami tidak ada yang menduga akan menjadi lebih dari teman. Tetapi hubungan itu hanya berjalan dua hari karena aku berpikir untuk masa depanku. Maklum dia berondong jadi aku harus berpikir 1000x untuk lanjut. Tentu saja orangtua ku tidak akan setuju, aku pun ragu. Tetapi kami tetap berhubungan baik walaupun tidak sampai 2 hari dia sudah berpacaran kembali dengan teman seangkatan kita juga. Sumpah sempat kecewa dan sakit. Seperti ditusuk dari belakang.
Aku training selama 3 bulan begitu juga dengan dia dan cewek nya. Aku memilih untuk resign, tetapi dia sepertinya memilih lanjut. Aku tidak mau berurusan dengan cewek nya jadi aku tidak tahu apa cewek nya juga lanjut or tidak. Lumayan lama aku berstatus single. Tak lama kemudian aku dikenalkan oleh teman kampusku. Setelah aku berkenalan dengan temannya dan sampai ketemu, kita nyambung. Kalau aku sih merasakan nyaman, tetapi aku tidak tahu dengan dia. Isi hati seseorang sesungguhnya kita tidak tahu. Aku berharap sama dengan yang aku rasakan. Seiring waktu kita renggang karena dia memilih mundur, mungkin ada yang tidak sejalan. Aku tak tahu karena dia tidak memberi alasan, hanya alasan tak berjodoh yang ia katakan padaku.
Aku sudah terbiasa dengan hubungan suram seperti ini jadi tak masalah. Aku berpikir lebih baik sakit daripada belakangan. Boleh bersedih tapi tidak boleh berkepanjangan. Itu yang aku terapkan saat menjalani hidupku seperti biasa. Walaupun dengan status single aku lebih merasa terhormat daripada pacaran tanpa ada rasa sayang. Tidak selalu single itu menyakitkan. Kita bisa bebas berjalan, berteman, berkenalan, bahkan melakukan yang kita suka tetap ke arah positif.
Selama hidupku, aku pikir menjadi seorang perempuan adalah soal memiliki rahim, vagina, payudara, dan rambut hitam panjang bersinar. Tetapi aku menyadari, bahwa menjadi seorang perempuan adalah mengenali tentang yang menakjubkan di dalam diri, mengisi setiap celah dengan damai, kegembiraan, dan cinta, dan mengetahui bahwa tidak ada lagi bagian tubuh yang akan pernah merumuskan siapa diriku.
Aku Wanita
Aku Wanita
4/
5
Oleh
Unknown