Semua orang yang mengenalku secara dekat pasti menyebutku sebagai orang yang optimis. Aku percaya dan yakin bahwa kita harus merangkul harapan dan menemukan sesuatu yang positif dan berarti bahkan di dalam situasi apapun. Optimisku tumbuh dari keyakinan yang kuat dan pribadi pada Allah yang penuh kasih sayang, yang menurutku sangat tertarik pada rincian pribadi dari hidup kita dan bukan hanya pada hal-hal yang besar. Aku juga yakin bahwa segala sesuatu terjadi untuk maksud tertentu dan jika kita tetap membuka hati dan pikiran, sering kali Allah kita yang tidak kasat mata itu menjadi kasat mata, kadang-kadang dengan cara yang sangat unik.
Setelah mengatakan itu, aku harus jujur mengatakan bahwa orang optimis pun kadang-kadang kehilangan harapan. Inilah yang terjadi padaku pada suatu hari yang sejuk dan mendung di bulan juli. Aku merasa sangat terbebani oleh tantangan yang menyakitkan yang sedang kuhadapi di dalam kehidupan pribadiku. Pergolakan asmara, kesehatan, dan pekerjaan telah bersekutu untuk menciptakan badai emosi yang mengancam akan menghancurkan semangatku. Aku merasa kesal, frustasi, berat, dan jauh dari kehadiran Allah. Saat itu cuaca seolah-olah mencerminkan perasaan hatiku - langit kelabu menghalangi semua sinar matahari yang masuk. Sambil menyeret diri menjalani hari santai, aku tidak bisa melepaskan perasaan putus asa.
Di sekitar sore hari, aku meninggalkan rumah untuk membeli cemilan. Dengan masih merasa pesimis dan negatif, aku melihat matahari muncul sesaat. Aku mulai memikirkan sikap negatifku dan mengingatkan diri bahwa aku bertanggung jawab untuk situasi pikiranku sendiri. Meski tidak bisa melupakan kepedihan yang sedang ku alami, aku bisa memilih untuk berkubang di dalam negativitas atau aku bisa memilih untuk menggeser pikiran ke fokus yang lebih baik. Bahkan ketika dengan sadar aku mengingatkan kebenaran ini kepada diriku sendiri, aku merasa tidak mampu menggeser pikiranku. Jadi, aku menggenggam gagang sepeda dengan kuat dan berdoa dengan jujur dan sepenuh hati. Allah, jeritku, dan air mata sudah mulai menggenang, Di manakah Engkau??? Aku tidak ingin merasa seperti ini tetapi hari ini aku merasa sangat sedih dan putus asa. Tolong lepaskan aku dari tempat yang gelap dan suram ini!
Saat berhenti di persimpangan jalan, aku memandang motor yang berada di depanku. Wajahnya menarik perhatianku - di helmnya tertulis simbol :-). Ini langsung membuatku tersenyum. Aku merasa seolah-olah Allah mmengingatkan bahwa bagaimanapun kita harus tersenyum dan positif dalam menjalani hidup. Beberapa tahun terakhir, ini sudah merupakan nikmat tersendiri bagiku. Tetapi kemudian mataku beralih ke mobil yang tepat berada di sisi motor itu. Stiker mobil itu berbunyi "Awas orang ganteng lewat".
Jadi, aku membayangkan wajah orang yang berada di dalam mobil tersebut layaknya Tom Cruse KW. Inilah yang membuatku tertawa terbahak - bahak! Membayangkan wajah orang tersebut yang sangat PD nya pada saat yang bersamaan ini menguatkan kesadaran sebelumnya tentang kemampuanku untuk memilih cara pandangku terlepas dari situasi yang ada. Aku merasa semangat dan suasana hatiku kembali ceria ketika aku membuat keputusan yang disadari untuk memilih sikap yang positif.
Aku kembali ke rumah dan menceritakan kisahku di sebuah blog ini yang dapat berbagi pengalaman atau kisahku. Dengan tawa yang hangat pada apa yang kusebut sebagai "pesan dari Sang Kuasa". Hari tu aku belajar bahwa ketika kita merasa tidak mampu mengeluarkan diri dari suasana hati dan pikiran yang negatif, peredarannya hanya melalui doa!
Tersenyumlah
Tersenyumlah
4/
5
Oleh
Unknown