Pagi hari yang cerah ditemani suara-suara merdu burung berkicauan. Menikmati waktu luang sebaik mungkin sambil menonton TV bersama keluarga. Ada yang ingin menonton berita, politik, gosip, pengetahuan, dan kartun. Maklum karena ada keponakanku yang masih kecil jadi harus menyesuaikan dengan umurnya. Suara keceriaan mereka sangat nyata mengisi kekosongan di rumahku. Mereka kadang akur dan kadang bertengkar tidak menjadi masalah. Itulah tahap proses pertumbuhan dan kematangan emosional. Siang telah tiba, kami segera makan bersama. Aku harus menyuapi keponakanku dulu baru aku bisa makan. Itulah tugas rutinku bila ada keponakan di rumah. Mereka lahap sekali sampai menambah sepiring lagi. Aku sangat senang melihat mereka makannya bagus. Maklum banyak sekali di luar sana para orangtua mengeluhkan anaknya susah makan.
Setelah makan siang kami berkumpul kembali di ruang keluarga untuk mengobrol sejenak. Keponakanku masih sibuk dengan makanan yang ada di mulutnya. Harus cukup sabar ya mengurus anak kecil apalagi soal makan. Itu suapan terakhir baginya jadi aku tidak perlu memikirkan ide agar dia menghabiskan makannnya. Waktu tidak terasa sudah mau sore, waktunya keponakanku untuk tidur siang. Aku harus pura-pura tidur terlebih dahulu sambil menepuk pantatnya agar keponakanku ikut tertidur.
Tidak berapa lama mereka tertidur. Aku segera bangun untuk membuat susu keponakanku. Keponakanku suka sekali rasa coklat tetapi kadang-kadang aku suka mencampurkannya dengan sedikit susu putih agar tidak terlalu enek baginya. Setelah aku membuat susu, aku harus kembali tidur di dekat mereka. Aku takut mereka menangis ketika melihat tidak ada orang. Kadang aku ikut tertidur walau tidak senyenyak mereka. Saat mereka terbangun benar saja, langsung meminta susu. Habis minum susu segera aku memandikan mereka. Di sela-sela aku memandikannya, air pun dibuat mainan oleh mereka. Mereka seru sekali bermain air sampai aku ikut basah dibuatnya. Setelah mandi aku pakaikan baju lalu kami bermain lagi di ruang keluarga. Ketika aku hendak ke bawah aku melihat sekeping biskuit sudah bertaruh di atas meja. Ternyata ibuku yang membuatnya.
Tidak perlu lama untuk memakannya. Aku terlebih dulu menyuapi untuk keponakanku baru aku. Rasanya sangat gurih dan lezat sampai keponakanku meminta lagi. Sore itu sungguh berwarna, keceriaan kembali datang. Kami sekeluarga bercanda gurau. Aku selalu setia bersama keponakanku. Sekarang aku menyadari kalau sekeping biskuit itu telah berarti di sore itu. Sekeping biskuit yang membuat keluarga kami lebih erat. Tengkuk mama ku tercinta :-)
Sekeping Biskuit
4/
5
Oleh
Unknown
2 comments
Cerita yang bagus gan , makasih artikelnya udah share.
Replysemoga terhibur gan :)
Reply