Tuesday, 15 December 2015

Lempar Gemboknya

Orangtua ku  tinggal di Jakarta, mereka bertemu dengan orangtua temanku. Sejak dari situ mereka menjadi teman. Mereka sering mengobrol dan berpergian bersama - sama. Kedua orangtua ku suka ikan dan kedua orangtua temanku menyukai ayam. Mereka memulai rekreasi bersama dengan saling bertukar makanan. Segera saja mereka menukarkan makanan masing-masing.
       Ketika selesai rekreasi bersama, mereka pulang ke rumah masing-masing. Kedua orangtua ku menggendong sepupuku yang masih kecil. Mereka  melewati ambang pintu, kemudian ayahku berkata,"Berikan kuncinya."
        Ibuku menyerahkan kuncinya, dan ayahku melempar kuncinya ke halaman.
        "Aku ingin tinggal di sebuah rumah yang terbuka bagi siapa pun yang membutuhkannya, "katanya menyatakan.
         Dan itulah yang mereka lakukan. Rumah mereka tidak pernah dikunci. Teman-teman keluar masuk, mampir untuk makan, mengambil makanan dari lemari es atau meringkuk di kursi malas untuk membaca. Maklum kami tinggal di daerah pedesaan jadi tidak perlu merasa khawatir. Makan malam selalu merupakan campuran pendapat dan orang-orang, mahasiswa, dan teman-temanku. Mereka kumpul semua menjadi satu bagian dari keluarga kami juga.
        Aku lahir di Pekanbaru tetapi lebih lama dibesarkan di Jakarta dan sangat mengenal kota Jakarta dan pintu rumahku yang tak pernah terkunci.
       Rumah yang tak berkunci membuat ayahku gembira sekaligus menakutkan. Terkadang ayah terbangun di tengah malam, membayangkan apa yang disebut ibuku sebagai "hal yang menakutkan". Perampokan, perkosaan, dan kematian berkelebatan di benaknya. Dan semuanya karena ayahku kekeh menolak mengunci pintu.
       Sabtu malam, di tengah malam, ayahku mendengar pintu dibuka. Dia mendengar langkah - langkah dan kemudian benturan. Bulu kuduknya serta tangannya merinding dan dia memegangi selimut rapat-rapat. Dia ingin berteriak, tetapi suaranya mengering di tenggorokan. Kemudian dia ingin diam, agar perampok mengambil apa yang diinginkannya lalu pergi. Di lantai bawah, perabotan digeser dan laci dibuka. Dia menyikut ibuku, tetapi dia tidak terbangun. Dia menjejalkan selimut ke dalam mulut agar dia tidak bisa berteriak. Kemudian dia mendengar deritan pintu kassa dan tertutupnya pintu luar. Dia mengguncang bahu ibuku. "Ma, ada orang di bawah. Aku rasa kita telah dirampok.
        "Apa kita akan baik-baik saja???" Tanya ibuku mengantuk.
        "Tentu," kata ayahku.
        "Kalau begitu tidurlah lagi. Kita akan periksa besok pagi."
         Esok paginya, ayahku nyaris tidak berani turun ke bawah. Dia memperhatikan ruang keluarga dan hanya melihat sofa buntut dan tumpukan majalah yang biasa di atas meja keluarga. Laci dapur masih utuh, lemari es masih full dengan sisa makanan. Piring yang tadi malam masih ada di meja makan, perangkat kue dari nenekku masih tersusun rapi di rak. Satu-satunya yang aneh adalah sepapan roti gandum tertata di piring meja makan.
"Ibuku, ayah yang beli roti gandum itu???"
Ayahku menggeleng.
Saat mereka duduk di meja dan meminum secangkir teh panas, ibuku berkata, "Yah, kita harus mengunci rumah. Sesuatu yang buruk bisa terjadi pada kita dan anak kita."
"Atau, sesuatu yang baik, "kata ayahku, sambil mengigit roti gandum yang telah diolesi mentega dan selai kacang.

Lempar Gemboknya
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email