Wednesday, 9 December 2015

Indahnya Hujan

Aku dan sahabatku baru saja selesai makan siang di  warung lesehan di daerah depok dan kami berjalan - jalan melewati toko - toko di pusat perbelanjaan di sampingnya. Kami mengunjungi toko perlengkapan bayi dengan harapan bisa menemukan hadiah untuk temanku yang akan menjadi seorang ibu. Berbagai macam peralatan bayi dan baju-baju yang unik dan lucu menggoda indera penglihatanku. Aroma wewangian untuk bayi pun menggoda indera penciumanku juga. Indahnya ketika menjadi seorang perempuan, yaitu ketika menjadi ibu :-).
       Ada banyak benda yang dipajang yang bisa dilihat. Semua rak dan dinding dipenuhi dengan peralatan bayi. Ketika berjalan-jalan di area toko , aku melihat sebuah papan kayu menggantung sederhana di dinding. Aku tertuju pada dinding tersebut dan aku ingat aku menganggukkan kepala "ya" untuk pesan yang tertulis pada papan itu. Aku melanjutkan perjalanan kami dan menikmati benda-benda lainnya, tetapi menemukan diriku terus tertarik kepada papan kayu itu.
        Berdiri di depan papan itu, aku merasa seperti seorang anak kecil yang menemukan harta karun tak diduga di dalam kotak bermain pasir-sebuah koin atau maianan yang pernah lenyap. Di sana, di antara benda-benda peralatan bayi yang lainnya, aku menemukan harta karun yang sangat sederhana, namun sangat bermakna, tersembunyi di dalam sebuah pesan. Pesan yang kubutuhkan.
"Hidup itu bukankah tentang menunggu badai berlalu, "kata papan itu, " tetapi tentang belajar menikmati suasana di saat hujan."
       Ketika aku menarik sahabatku dan menunjukkan papan itu kepadanya, aku bisa melihat bahwa dia juga menghargai pelajaran sederhana yang tertulis di sana. Betapa banyaknya kita mengajukan syarat untuk kebahagian kita sendiri. Jika aku sudah mendapatkan pekerjaan yang layak dan tetap, kita akan bahagia. Ketika urusan melamar pekerjaan sudah selesai, baru kita bisa melakukan pekerjaan yang kita senangi. Begitu sedikit keceriaan untuk "di sini dan di saat kini" di tengah kepastian "jika" dan " nanti".
        Saat memandang  papan itu, aku teringat akan suatu hari yang panas dan lembab di saat cuaca terik sebelumnya, ketika tanpa sengaja aku "menghidupi" pesan yang ada di papan itu. Awan gelap telah mmenghiasi di sore hari, awan yang telah jenuh uap air. Gerimis mulai turun di sore hari, berkembang menjadi hujan lebat yang membanjiri selokan, lalu berpindah ke tempat lain secepat kedatangannya.
       Gerimis masih turun ketika aku berjalan ke depan teras rumahku. Air masih membanjiri selokan. Aku tidak tahu apa yang mendorongku, tetapi tiba-tiba aku ingin melakukan sesuatu yang agak ekstrim di usiaku yang sudah di atas dua puluh lima tahun.
        Aku membuka sendal, dan mulai berjalan telanjang kaki di genangan air. Air itu nyaman dan dingin, dihangatkan oleh trotoar yang telah dipanggang teriknya matahari.   
       Aku yakin para tetanggaku akan menganggap aku gila atau kayak anak kecil, tetapi aku tidak peduli. Karena untuk sesaat, aku merasa sangat hidup. Aku tidak mencemaskan panggilan interview, masa sepan,  atau kekhawatiran lainnya. Aku sedang mengalami sebuah nikmat- saat gembira yang tulus dan sederhana.
       Sekarang papan kayu itu, sudah menjadi kata-kata mutiara di dalam hidupku. Setiap hari, puluhan kali aku mengingatnya dan sering kali aku berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri, "Jadi, apakah aku sedang menjalankan tulisan itu menikmati indahnya hujan?"
       Sepertinya ya. Paling sedikit aku mencoba melakukannya. Yang pasti , aku lebih berkomitmen meluangkan waktu luang untuk berhenti sejenak dan mengenali serta bersyukur untuk nikmat yang Kau berikan yang mengitariku - kegembiraan kecil yang terlalu sering aku abaikan di dalam  upayaku mengejar kebahagian di masa depan. Aku menikmati pemberiannya, di antaranya sseorang sahabat yang sangat menghargai dan selalu ada untuk aku, cinta dan kasih sayang para sahabat dan temanku serta keindahan alam yang sungguh luar biasa. Ya, selangkah demi selangkah, aku belajar untuk menikmati indahnya hujan!

Indahnya Hujan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email