Sunday, 13 December 2015

Aku Tersenyum Karena Rahmatnya

Nenek ku, yang menemani ku semasa kecil, dapat menemukan ketabahan dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Dia memberitahuku kesederhanaan kami sebagai rahmat dari Allah, karena Allah memiliki tempat yang spesial di hati  Nya bagi orang sabar. Manakala aku mengeluhkan kenyataan bahwa pakaianku berasal dari obral baju murah, nenek menuntun mataku ke dalam sebuah doa. Berdoalah dan curahkan semuanya sama yang Kuasa.
   Tidak lama setelah ulang tahunku yang ke 17, aku menghadapi situasi yang sulit. Kemunculan yang tiba-tiba dari suatu penyakit kista menyebabkan sakit yang luar biasa. Nenek ku telah berpulang belum lama ini, tetapi warisan imannya tidak pernah hilang. Aku terpukul dengan situasi ini dan penyakitku. Aku tidak mau bertemu banyak orang sehingga aku lupa akan hal luar di sana. Aku pikir teman-temanku akan menjauhiku karena aku tidak sama dengan mereka.
     Aku  membiarkan diriku larut dalam kesedihan selama berminggu-minggu sebelum aku bosen sendirian. Aku telah menolak peluang untuk mencoba hal-hal baru di luar sana, tetapi sekarang aku mau bertemu dengan orang banyak dan menikmati udara diluar rumah. Mengenakan pakaian yang bagiku nyaman dan modis aku sudah siap untuk mencoba hal baru. Berjalan-jalan menikmati lalu lalang orang yang melintasi ibu kota. Ada yang menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum bahkan berjalan kaki. Seakan aku lupa sama penyakitku ini.
     Kemudian suatu hari aku mempelajari tubuhku. Bisakah aku membiasakan diriku kalau aku baik -baik saja bebas dari penyakit apapun??? Aku mencoba tersenyum terhadap diriku sendiri :-). Aku mulai meyakini bahwa aku sama seperti wanita umumya yang sehat dan ceria. Aku ingat bahwa pada suatu saat kita akan mengalami masa-masa sulit. Saat itulah manusia mudah terombang ambing. Manusia akan lupa pikiran-pikiran yang logis, sehingga cepat mengambil keputusan.
      Dalam perjalananku, aku berkenalan dengan beberapa orang di sekeliling ku. Salah seorang dari mereka menceritakan sebuah kelompok sosial untuk anak-anak yang mengalami sama denganku yaitu kista. Aku mendengarkan dengan baik cerita mereka dengan wajah yang sekan-akan semua akan membaik. Aku juga mulai dekat dengan seorang pria lucu yang ada di sana. Dia saat itu sedang membaca buku dengan kacamata yang menghias di wajahnya.
       Aku merasa bahagia. Walaupun aku terkena penyakit yang bagi kaum wanita sangat riskan, aku masih diberi kesempatan untuk hidup dan bertemu dengan seseorang yang sudah lama aku lupakan. Melupakan kalau ada seseorang yang akan melihat mu dan menjaga mu sampai akhir hayat. Aku merasa nyaman dengan pria tampan itu. Bisa dibilang dia pria idamanku. Sifat menghargai wanita, itulah yang aku salut. Di saat itulah aku sadar Allah sayang kepadaku, memberi pesan kalau diriku layak untuk menjadi wanita sesungguhnya :-)
     Aku merasa Allah telah tersenyum kepadaku...

Aku Tersenyum Karena Rahmatnya
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email